Solo Traveling untuk Perempuan: Pembuktian Diri – (Kota Semarang)

www.devimariaulfa.com

Halo! Selamat datang lagi di blogku! Ini adalah cerita solo traveling di kota kedua yaitu Kota Semarang setelah sebelumnya aku bercerita tentang Kota Bandung. Untuk link cerita Kota Bandung, bisa di klik di sini ya!

 

Siyap mari kita lanjut cerita! Jadi aku memutuskan berangkat ke Semarang menggunakan Kereta Api Indonesia dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Tawang Semarang. Dari Bandung berangkat sekitar pukul 21:25 malam dan perkiraan sampai Semarang jam 04:50 pagi. Untungnya Kereta Api Indonesia itu sangat on time ya! Pukul 20:30 malam, aku sudah bisa menaiki keretanya, karena memang sudah tiba di Stasiun Bandung. Kereta yang aku pakai adalah Harina dengan tujuan akhir Stasiun Surabaya (lupa berhenti di Turi atau Gubeng) kelas eksekutif hanya seharga IDR 150.000 saja! Untungnya, minggu-minggu itu (tanggal 1-13 Desember), PT. KAI sedang membuat promo week eksekutif mulai dari IDR 150.000; bisnis mulai dari IDR 100.000; dan ekonomi mulai dari IDR 60.000. Waktu itu kereta Harina yang aku pesan sisa 4 seat! Dengan rasa deg-degan karena takut kehabisan tiket, aku langsung booking, dan akhirnyaaaa dapat juga! Dan enaknya, kelas eksekutif yang aku pakai adalah gerbong baru! Makin nyaman dehh!

http://www.devimariaulfa.com
Harina – Doc Pribadi

Mantapp! Akhirnya tanggal 5 Desember berangkat juga ke Semarang! Sampai Semarang sekitar jam 05:45 di Semarang Tawang. Rasa kantuk yang melanda karena hanya bisa tidur sekitar 4 jam di kereta, itupun tidak nyaman karena disebelahku bapak-bapak jadi harus setengah sadar tidurnya, kan jangan sampai kepalaku mendarat di bapak-bapak itu yaa, apalagi kalau ketahuan aku mendengkur atau ngiler kan ya hehehe. Untungnya, disetiap perjalanan yang membutuhkan banyak waktu seperti kereta, bis, atau pesawat (yang memakan waktu berjam-jam), aku selalu pakai baju tidur seperti celana training, dan kaos lengan panjang plus kerudung segitiga daaan tanpa makeup. Kondisi seperti itu bikin nyaman pada perjalanan yang membutuhkan banyak waktu. Jadi kalau kalian lihat aku yang pakai baju ‘niat’ di Instagram yaa memang untuk keperluan kualitas konten 😂.

Sampai di Stasiun Tawang aku langsung buru-buru ke toilet sebelum diserbu banyak penumpang lainnya, setelah itu perut berbunyi hebat. Oh, lapar sepertinya (padahal di kereta sudah makan pizza mini – ampun banget deh ini perut). Akhirnya aku memutuskan beli bengbeng dan onigiri di mini market. Karena di Semarang aku nginep di rumah budhe jadi aku nggak perlu khawatir untuk uang akomodasi deh. Untuk menuju rumah budhe di daerah Pedurungan, cuma pakai Gojek aja sekita IDR 14.000 an saja.

Sesampainya di rumah budhe legaaa sekali karena akhirnya bisa jungkir balik meregangkan badan. Di rumah budhe sudah disuguhi teh panas dan aneka kue (yah bengbeng dan onigirinya diskip dulu). Satu jam kemudian, setelah mengobrol banyak sama budhe dan pakdhe, dari luar rumah sudah ada yang teriak

 

“nasi liweeeetttt… nasi liweeeeettt…”

 

Uh-oh budhe langsung lompat dari kursinya untuk membelikanku nasi liwet. Nasi liwet ini kayaknya sudah jarang-jarang ya, apalagi di Serang. Di Serang mau sarapan pakai soto panas kayak di Jogja aja susaaahnya minta ampun. Di jogja biasanya jam 6 pagi sudah buka, jam 8nya mulai habis. Nah kalo di Serang kebalik, jam 8 baru buka …

Karena udah lama tinggal di Serang, jadi aku culture shock lagi ke kebiasaan orang jawa. Aku shock banget pas lihat mbak-mbak nasi liwetnya motong telur pakai benang!!! Parah banget aku shock, dan mbak-mbak nasi liwetnya cengengesan aja pas aku ajak ngobrol tentang culture shock Serang dan Semarang. Yaudah tanpa ba bi bu lagi, ini dia foto nasi liwetnya.

http://www.devimariaulfa.com
Nasi Liwet Semarang – Doc Pribadi

 

Maaf kualitas fotonya nggak HD karena cuma pakai kamera hp. Tapi satu piring itu seharga IDR 15.000 saja lhoo (harusnya 10.000 tapi aku minta nambah nasi jadi 15.000 – lol). Enakkk bangettt jadi kangen masa-masa kuliah di Jogja yang jam 6 pagi sudah ada yang jual gudeg dan jajanan pasar yang enak banget di pinggir jalan (pasti beli!).

Setelah kenyang makan, akhirnya budhe bilang untuk mulai jalan-jalan hari itu jam 10 an saja. Nggak masalah sih soalnya aku perlu nyuci baju-baju kotor dulu dan rebahan. Setelah jam 10 kita berangkat ke destinasi pertama yaitu Lawang Sewu.

Terakhir ke Lawang Sewu itu pas masih SD atau SMP ya? Ingatannya sudah samar-samar. Asik banget dulu soalnya masih pada kecil, pergi bareng sepupu-sepupu. Sekarang sudah pada sibuk masing-masing. Waktu dulu ke Lawang Sewu, tour penjara bawah tanah dibuka untuk umum dengan membayar, sudah didampingi tour guidenya. Tapi entah sejak kapan, pas kemarin ke sana, tour penjara bawah tanahnya sudah di tutup. Dulu akses ke lantai 2 pun masih boleh dinaiki, sekarang tidak boleh. Bisa dimaklumi lah ya karena bangunan tua, takutnya terjadi hal yang nggak diinginkan. Tapi di lantai dasar tidak kalah eksis deh buat di eksplor. Satu kamar bilik memiliki sekitar 6 pintu dan bilik-bilik di sana juga banyak, makanya disebut Lawang Sewu. Lawang yang berarti pintu, Sewu yang berarti seribu. Sekarang beberapa bilik di Lawang Sewu diberikan informasi dan replika sejarah dari Lawang Sewu dan PT. Kereta Api Indonesia.

Sebagai travel blogger – ceileee  aku langsung deh foto-foto deh eksis sendiri dengan Lawang Sewu.

 

Lawang Sewu – Doc Pribadi

 

http://www.devimariaulfa.com
Lawang Sewu – Doc Pribadi
http://www.devimariaulfa.com
Lawang Sewu – Doc Pribadi

Selesai eksplor beberapa gedung Lawang Sewu,  budhe mengajakku untuk makan di CFC. Iya! Sekarang di Lawang Sewu ada spot sendiri untuk CFC.

Setelah selesai makan, ditengah hari yang sangat panasss bangett, kita melanjutkan pergi ke Vihara terkenal di Semarang, Sam Poo Kong. Siapa yang nggak tahu Sam Poo Kong sih? Vihara besar tempat beribadah umat Budha yang bangunan khas Tiongkoknya keren banget deh pokoknya.

http://www.devimariaulfa.com
Sam Poo Kong – Doc Pribadi

 

http://www.devimariaulfa.com
Sam Poo Kong – Doc Pribadi

 

Di Sam Poo Kong menyediakan tempat sewa untuk menyewa kostum kerajaan-kerajaan China. Sayangnya aku nggak mau sewa karena bajunya terlihat besar banget, nanti keliatan tambah gendut – lol. Oh iya sampai lupa! Di Sam Poo Kong kalau tidak salah membutuhkan IDR 35.000 untuk mengeksplor sampai ke Vihara dalam (yang ada perahunya).

 

http://www.devimariaulfa.com
Sam Poo Kong – Doc Pribadi

 

http://www.devimariaulfa.com
Sam Poo Kong – Doc Pribadi

 

Hari pertama eksplor di Semarang selesai deh. Masih mau eksplor tapi kasihan budhe sepertinya sudah mengantuk dan lelah. Akhirnya memutuskan tujuan akhir untuk mampir ke toko buku sebentar untuk membeli novel.

Malamnya, sepupuku yang dari Tegal dan kuliah di Semarang bernama Alvira datang untuk menemaniku tidur di rumah budhe. Kemudian saat itu kami memutuskan untuk ke McDonalds untuk bertemu teman kuliahku sewaktu di Jogja, bernama Harum. Bercerita panjang lebar sampai jam setengah 11 malam. Untungnya besoknya Alvira cuma ada jadwal kuliah jam 6 sore (iya po? 😂) jadi bisa menemani pergi bersama-sama ke spot selfie-nya Semarang.

Hari kedua, kami pergi pagi sekali, jam 7 pagi (niatnya jam 6, tapi gara-gara masih ngantuk, jadinya jam 7). Kita berencana pergi ke Bandungan dengan tempat wisata baru bernama Candi Gedong Songo. Sebelum naik ke tempat wisata tersebut, terlebih dahulu kami sarapan di soto Semarang favorit mas Arif (anaknya budhe) di daerah Banyumanik. Maaf sekali, saking laparnya, sampai lupa ambil foto makanannya 😭.

Setelah selesai makan, kami langsung naik ke Bandungan. Di Candi Gedong Songo ada candi-candi penginggalan, namun karena candinya jauh dan naik bukit kami tidak menaiki bukit tersebut. Ada alternatif lain dengan menaiki kuda, tapi errrr aku jujur kasihan kudanya kalau aku naiki 😂 takut kenapa-kenapa. Untuk menaiki kuda merogoh kocek sebesar IDR 120.000 untuk mengelilingi semua candi.

Di Candi Gedong Songo terdapat spot selfie bernama Ayana Gedong Songo. Seakan tahu kebutuhan eksis kaum milenial, spot selfie ini menyediakan banyak fasilitas jaman now untuk stok foto Instagram termasuk aku 😂 . Spot selfie ini dikenakan biaya sekitar IDR 20.000 untuk dewasa, dan IDR 10.000 untuk anak-anak. Berikut ini foto-foto yang aku ambil untuk stok Instagram😂

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

Spot dinner ala-ala restoran bintang lima. Tapi ngenesnya adalah tidak punya gandengan atau pacar untuk ambil foto romantis di spot ini 😂

 

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

Spot selfie sekarang banyak menjamur di daerah pegunungan. Tidak hanya di Semarang, di Jogja dari waktu ke waktu banyak sekali masyarakat mengerti adanya peluang bisnis wisata alam yang dapat mensejahterakan ekonominya sendiri dengan membuat spot selfie. Dengan mengandalkan bibit-bibit bunga-bunga atau saung-saung kreatif seperti rumah hobbit atau perahu yang menjulang langsung ke jurang dengan pemandangan yang apik. Untuk spot selfie lain di Jogja bisa di klik di sini.

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

Kawasan hijau di Ayana Gedong Songo membuatku mempunyai ide untuk melakukan foto portrait ala-ala fotografer profesional lhoo.

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Ayana Gedong Songo – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Self Potrait dengan Alvira – Doc Pribadi

 

Selain Ayana Gedong Songo sebagai spot selfie, masih ada spot selfie lainnya jika kita agak turun sedikit di wilayah Bandungan. Ada Kebun Bunga yang bisa kita pakai untuk berfoto.

www.devimariaulfa.com
Kebun Bunga Bandungan – Doc Pribadi

 

www.devimariaulfa.com
Kebun Bunga Bandungan – Doc Pribadi

 

Kata budhe, dahulu saat awal-awal Kebun Bunga ini dibuka, bunga-bunga di Kebun Bunga ini sangat banyak dan terlihat segar. Namun pada saat aku kesana, tidak terlihat bunga yang bagus, bahkan cenderung layu. Selain layu, terlihat banyak jejak-jejak manusia yang sepertinya menduduki bunga tersebut untuk berfoto, terlihat dengan adanya bunga-bunga yang peok. Dengan peluang bisnis yang menjanjikan seperti ini, dibutuhkan pula rasa kesadaran yang besar dari pengunjung untuk bersama-sama menjaga tempat ini agar tetap asri dan bagus. Sayang sekali, dengan harga yang murah dan menyuguhkan fasilitas yang bagus untuk berfoto, seharusnya pengunjung bisa lebih menghargai. Karena minimnya bunga-bunga yang bagus, Kebun Bunga tersebut tidak seperti Kebun Bunga (iyalah 😂) sehingga aku merasa bosannn dengan pemandangan yang disuguhkan.

www.devimariaulfa.com
Kebun Bunga Bandungan – Doc Pribadi

 

Di foto di atas, adalah pose dimana aku memilih untuk tertawa daripada naik ke kursi soalnya aku membawa lemak yang banyak (re: nggak bisa naik cepet) sedangkan timer kamera sudah mau habis yasudah, daripada kefoto pas sedang berusaha naik, mending tertawa saja 😂. Akhirnya Alvira yang bela-belain bolak-balik ke kamera untuk set timer lagi. Andddd fuallaaaa ini dia fotonya yang ‘waras’ 😂

www.devimariaulfa.com
Kebun Bunga Bandungan – Doc Pribadi

 

Dengan inilah kami mengakhiri eksplor hari kedua di Semarang. Sebelum pulang ke rumah, kami sempatkan datang ke toko oleh-oleh untuk membeli wingko babat yang Papa suka. Karena sore itu aku sudah harus kembali ke Serang dengan menaiki bis malam, karena keesokan paginya aku harus pergi ke Bogor.

 

Dari solo traveling yang singkat ini aku belajar banget kalau ketika kita takut memulai sesuatu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa untuk belajar. Di solo traveling ini, lebih banyak pertimbangan dan ketakutan. Apakah nggak masalah buatku untuk pergi sendiri, apakah mama akan ‘bawel’ bertanya-tanya mau nginep dimana, sama siapa, naik apa, bla bla (ternyata mama cuma bilang “yaa sana… terserah saja” 😂). Solo traveling ini juga membuat aku lepas dari penatnya tekanan di rumah. Mungkin aku orangnya overthinking dan take stress seriously, makanya solo traveling ini benar-benar memanjakan otak dan emosiku sejenak walupun sebentar. Mengobati kerinduan dengan sanak saudara pun terobati. Apalagi ketemu Alvira, beberapa diskusi kita yang lakukan sangat berbobot. Kita mendiskusikan gizi makanan dan bahayanya makanan yang mentah, walaupun sesekali diselingi bercandaan (Vira orang tegal ketawanya menggelegar  😂).

 

Sekian ceritaku mengenai solo traveling untuk perempuan! Semoga untuk perempuan-perempuan yang takut untuk traveling sendiri bisa lebih memberanikan diri, karena traveling sendiri itu terkadang menyenangkan dan bisa lebih memahami kesulitan, kelemahan, dan kemampuan diri sendiri, dan yang terpenting mencintai diri sendiri.

 

Selamat jalan-jalan!

 

Love,

Ulfa

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *