Solo Traveling untuk Perempuan: Pembuktian Diri – (Kota Bandung)

Sudah lama sekali aku tidak traveling lagi dengan alasan merintis bisnis kecil-kecilan dan mengajar Bahasa Jepang sebagai kesibukan akhir-akhir ini sehingga sudah beberapa bulan aku absen ngeblog (karena memang belum kemana-mana) dan aku hanya post beberapa throwback di Instagram. Pada akhirnya akhir bulan November kemarin, aku memutuskan untuk kembali solo traveling, karena terakhir aku solo traveling adalah tahun lalu pada saat magang di Penang, Malaysia. Rasanya rindu sekali mencintai diri sendiri dengan traveling. Pada saat yang bersamaan, Kementrian Pariwisata sedang mengadakan lomba foto tempat atraksi atau kuliner di 10 Kota pilihan kita. 10 kota tersebut antara lain: Bandung, Jawa Barat; Great Bali; Great Jakarta; Great Kepri; Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang); Coral Wonders (Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken); Medan; Makassar; Lombok; dan Banyuwangi.

Dengan keterbatasan budget, aku nekat untuk berangkat sendiri, perkara rempong nanti aja lah 😂. Destinasi yang aku pikirkan untuk pergi pertama kali adalah Bandung (karena Papa bekerja di Bandung), Joglosemar (sudah hafal dengan joglosemar semasa kuliah), untuk melengkapi aku berfikir untuk menambahkan Raja Ampat karena akhir tahun 2017 aku pergi ke Raja Ampat. Tapi pada kenyataannya manusia memang hanya bisa berencana, dan Tuhan yang menentukan, jadi hanya Bandung dan Semarang saja yang bisa aku datangi (ada acara mendadak hari selanjutnya).

Baca Juga: Raja Ampat

Kota yang pertama aku datangi adalah Bandung. Bandung adalah kota yang bersih. Bersih adalah kata pertama yang ada di kepala setiap kali aku ke Bandung. Sudah bolak-balik Bandung tapi tidak pernah hafal jalan Bandung. Beberapa destinasi sudah pernah didatangi, tinggal melengkapi destinasi yang belum pernah didatangi saja. Bandung terkenal dengan wisata di kawasan Lembang yang terkenal dengan udara sejuknya. Tapi di kegiatan solo traveling kali ini, aku tidak akan membahas Lembang. Lembang bisa dibaca di link bawah ini!

Baca Juga: Lembang

Aku akan membahas ‘mini – solo traveling’ di kota Bandung. Karena Papa bekerja di Bandung, makanya kalau sedang ingin berlibur, kami sekeluarga pada saat weekend pasti disempatkan datang ke Bandung. Berkali-kali datang ke Bandung tapi baru tahu yang namanya Bis Tur Kota Bandung yang biasa disebut Bandros (Bandung Tour on Bus).

http://www.devimariaulfa.com
Bandung Tour on Bus (Bandros) – Doc Pribadi

Bandros ini banyak macam warnanya, nah warna-warna ini yang menandakan tujuan-tujuan untuk mengelilingi Kota Bandung karena  tidak semua Bandros memiliki tujuan yang sama.

Berikut warna-warna Bandros beserta tujuannya dikutip dari travel.tribunnews.com :

1. Bandros Biru = Alun-Alun Bandung, Cibaduyut, Taman Leuwi Panjang, Museum Sri Baduga, Alun-Alun Regol, dan Kawasan Buah Batu.

2. Bandros Kuning = Lapangan Gasibu, Taman Cibeunying, Taman Superhero, Taman Foto, Gedung Merdeka, Alun-Alun Bandung, dan Braga.

3. Bandros Ungu = Gasibu, Taman Cikapayang, Alun-Alun Ujungberung, Museum Geologi, dan Pusdai.

4. Bandros Hijau = Chinatown, Pasir Kaliki, Alun-Alun Cicendo, Karang Setra, UPI, dan Gor Padjajaran.

5. Bandros Merah Muda = Gasibu, Taman Pasupati (Taman Jomblo), Teras Cikapayang, Teras Cihampelas, dan Taman Budaya.

Nah untuk menaiki Bandros ini, bisa naik lewat 3 shelter nih! Shelter-shelter tersebut berada di Gasibu (Museum Geologi), Taman Balai Kota Bandung, dan Alun-Alun Bandung. Dengan merogoh uang IDR 20.000 saja, kita sudah bisa keliling Bandung dengan durasi 1 sampai 1,5 jam saja. Jangan khawatir, di dalam Bandros didampingi dengan seorang pemandu Bandros. Mereka akan menjelaskan sejarah-sejarah di Bandung pada saat kita melewati tempat tersebut.

Berfoto dengan Guide Bandros – Doc Pribadi

Bandros yang aku pakai kurang jelas warnanya, seperti abu-abu tapi pemandunya bilang itu bukan warna abu-abu hahaha.

Bandros yang katanya bukan abu-abu 😂 – Doc Pribadi

Bandros yang aku tumpangi mengelilingi Taman Dewi Sartika, Gedung Sate, Gedung Cibeunying, Taman Foto, Gedung Merdeka, Alun-Alun Bandung, dan kembali ke titik awal naik yaitu di Taman Balai Kota Bandung.

Setelah puas menaiki Bandros, aku pulang kembali ke Wisma untuk makan bersama Papa karena belum makan sama sekali dari pagi! Karena Bandung adalah kota hujan, jadi susah sekali untuk pergi-pergi. Dari pagi sampai sore hujan terus!

“Akhirnya isi perut!” gumamku dalam hati. Papa mengajak ke restoran sederhana yang terkenal, yaitu Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo. Heran sih, kan sedang di Bandung, tapi makannya soto Boyolali 😂. Tapi karena Papa sedang tidak enak badan, jadi aku nurut saja Papa mau makan di mana. Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo ini enak banget lho! Outletnya sudah ada di mana-mana. Mereka menyediakan soto daging dan soto ayam. Karena aku suka banget sama soto daging, jadi aku pesan soto daging, plus nasi yang dipisah.

Banyak yang tanya ke aku, kenapa sih aku sukanya makan soto yang nasinya dipisah? Toh nanti bercampur juga. Uh-oh sayang, bedaaa banget deh rasanya. Aku lebih suka kuah yang tenggelam dalam nasi, bukan nasi yang tenggelam dalam kuah, dan sensasinya beda banget. Aku suka nasi yang setengah basah ketimbang basah semua. Mungkin yang sedang ingin berhangat-hangat ria dengan soto, maka soto dengan nasi di campur bisa menjadi pilihan yang sangat tepat! Nah sudah aku jawab ya alasannya!

Pas datang pertama kali ke Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo ini, di meja yang kita tempati sudah tersedia berbagai lauk pendamping soto seperti mendoan, sate paru, perkedel, tahu, dan lain-lain.

Lauk Pauk di Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo – Doc Pribadi

Baru ngeliat lauknya saja udah bikin ngiler kan? Tadaaa dibawah ini foto soto yang dipesan! Soto daging lhoo!

Soto Daging Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo –  Doc Pribadi

Setelah selesai makan di Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo, aku dan Papa memutuskan untuk nonton film horror “Possesion of Hannah Grace” karena kita berdua adalah penggemar film horor. Setelah nonton, barulah hari itu aku akhiri perjalanan. Sangat singkat ya? Benar sekali, karena hujan yang tidak berkesudahan menghambat jalan-jalan.

Apakah sampai situ saja traveling di Bandung? Nope. Hari berikutnya aku lanjutkan untuk datang ke salah satu tempat hits untuk berfoto ria atau istilah hype nya, spot selfie. Spot selfie tersebut adalah Forest Walk Babakan Siliwangi. Untung saja, waktu itu nggak hujan tapi mendung-mendung syahdu sehingga pas naik Gojek ke tempat yang dituju, dinginnya sampai menusuk tulang banget. Tapi sesampainya di Forest Walk Babakan Siliwangi, aku disuguhkan pemandangan yang mencuci mata. Hijau-hijau semua! Enak banget buat bikin rumah pohon, karena udaranya yang dingin-dingin kabut yang baru turun. Setelah sampai, aku sempatkan untuk foto-foto. Untungnya ada tripod, jadi nggak perlu minta tolong orang lain untuk fotokan hihi.

Forest Walk Babakan Siliwangi – Doc Pribadi
Forest Walk Babakan Siliwangi – Doc Pribadi

Tidak beberapa lama aku foto-foto, hujan turun sangat lebat sehingga aku terhambat lagi deh untuk mengabadikan tempat tersebut.

Yak sampai situ saja sih solo travelingku di Bandung, kenapa sedikit banget ya? Mungkin karena aku sudah sering ke Bandung jadi terasa bosan. Aku lebih senang kalau bisa bolak-balik ke daerah Lembang yang lebih banyak wisata alamnya. Nah untuk cerita di Lembang, bisa kalian klik disini lho.

Seperti biasa ya, aku minta feedbacknya di kolom komentar! Sampai jumpa di Solo Travelingku di Kota Semarang!

Love,

Ulfa

Next: Solo Traveling – Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *